Rabu, 05 Agustus 2009

Rutinitas dan tetesan air mata

Hari ini, seperti biasa, tidak ada yang istimewa. Hari ini ada acara pelantikan pejabat juru sita. Sebuah jabatan yang memerlukan pendidikan khusus. Ini merupakan sebuah jabatan untuk melakukan penyitaan terhadap wajib pajak yang mangkir terhadap tagihan pajak. Ini merupakan langkah terakhir yang dapat dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak, untuk itu diperlukan pegawai khusus yang mempunyai keahlian di bidang juru sita.

Yang dilantik ada enam orang. Salah satunya adalah seorang pria paruh baya. Penampilannya sederhana dan penuh wibawa dengan kumis jenggot memutih yang dia pelihara. Dia hanya pelaksana biasa, tidak punya jabatan apa-apa di kantor kami. Pendidikannya pun hanya tamat SMA. Dia adalah pelaksana di salah satu seksi di kantor kami. Sebagian teman memanggilnya 'pak haji', mungkin karena dia sudah naik haji. Dari cerita seorang teman, dia dulu adalah 'preman' pajak. Seperti yang lainnya, dia juga dulu seorang pegawai pajak yang suka 'bermain-main'. Bahkan premanismenya berlanjut dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat. Singkat cerita dia tobat dengan setobat-tobatnya. Aku mungkin tidak mengenalnya lebih jauh. Namun dari sosoknya yang tadi tergambar, beliau saat ini sedang menikmati kehidupanya dengan lebih baik.

Tiba saat pembacaan sumpah, dia menitikkan air mata. Baru kali ini, ada pegawai yang dilantik menitikkan air mata. Dulu, mungkin sekarang juga, acara pelantikan atau sumpah jabatan sering diplesetkan menjadi acara disumpah-sumpahin. Dan banyak lagi plesetan-plesetan lainnya, sehingga acara yang seharusnya sakral dan penuh perenungan menjadi olok-olokan. Namun pelantikan kali ini betul-betul istimewa.

Mungkin, bagi dia, kehadiran KPP modern dengan segala perbaikan sistem merupakan anugerah yang tak ternilai harganya. Sambutannya akan kehadiran KPP modern sama dengan kegembiraan orang beriman menyambut ramadhan yang penuh berkah. DJP yang dulu hitam sekarang mulai membersihkan diri menjadi putih. DJP yang dulu sarang penyamun, sekarang adalah tempat pengabdian anak-anak terbaik bangsa, terbaik dalam intelektual dan terbaik dalam integritas, untuk mengamankan penerimaan negara, bukan untuk penerimaan kantong sendiri. DJP sekarang merupakan ladang amal terindah yang dimiliki bangsa ini.

Saat ini, DJP sedang memasuki reformasi tahap ke-II yaitu reformasi sumberdaya manusia. Maka kualitas intelektual dan akhlak SDM sedang ditingkatkan melalui berbagai sarana yang ada. Semua sistem dan aturan yang berkaitan dengan SDM diperbaiki.

Begitulah DJP kami saat ini, kami bangga menjadi bagian dari DJP.