Kota Bangko merupakan sebuah kota kabupaten dari sebuah kabupaten di propinsi Jambi, kabupaten Merangin. Kota ini juga merupakan pecahan dari kabupaten Sarko (Sarolangun Bangko). Terletak diantara kota Jambi dan Padang. Sepanjang perjalanan dari kota Jambi sampai dengan kota Padang, kita akan melalui beberapa kota kabupaten lainnya yaitu : Muara Bulian, Muara Tembesi, Sarolangun, Bangko, Muara Bungo, Solok dan terakhir Padang. Diantara kota-kota tersebut maka akan kita dapati bahwa kota Bangko merupakan kota yang paling baru dan relatif paling sepi. Kota ini mulai tumbuh dengan perekonomian yang belum begitu berkembang. Konon, perekonomian di kota ini masih dikuasai oleh penduduk lokal. Etnis china yang selama ini dianggap sebagai penguasa perekonomian belum begitu kelihatan dan kurang diterima.
Kontur kota yang membukit membuat jalan yang hanya berjarak 2 km, naik turun. Pusat perekonomian dan pemerintahan berjejer di sepanjang jalan tersebut. Jalan tersebut bernama jalan jend. Sudirman. Seperti halnya kota-kota lainnya, perekonomian memusat di blok pasar yang menjual segala macam kebutuhan. Sementara pusat pemerintahan terletak persis di depan pusat perekonomian tersebut.
Sementara agak masuk ke dalam dari pasar dan kantor bupati akan kita dapati rumah-rumah penduduk. Bukan komplek, hanya perumahan yang dibangun oleh masing-masing pemilik tanah dan kemudian membentuk seperti komplek perumahan. Rumah-rumahnya relatif luas karena mungkin awalnya tanah di kota ini masih relatif murah. Perumahan tersebut seperti terbagi dengan sendirinya menjadi bagian perumahan yang berduit dan yang biasa saja. Perumahan orang berduit relatif besar dengan struktur bangunan yang kokoh dan mempunyai garasi yang dipenuhi mobil-mobil yang relatif baru. Kemudian blok lainnya dipenuhi oleh perumahan sederhana dan relatif lebih kecil. Namun semua bagian tersebut tertata dengan rapi dan diselingi pepohonan yang tumbuh sembarangan.
Lain lagi dengan perumahan di belakang kantor bupati. Wilayah tersebut dipenuhi oleh perumahan agak elit, hotel, kantor instansi pemerintah dan sekolahan. Suasananya lebih mirip komplek perkantoran. Penduduk kota ini sebagian besar bekerja sebagai pegawai pemerintahan. Menurut cerita yang didapat penulis, sebagian besar kota ini dihuni oleh pendatang dan beretnis jawa.
Kehidupan malam di kota Bangko dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang menjual berbagai jenis kebutuhan perut. Tidak sulit untuk menemukan soto betawi atau pecel lele di kota ini. Juga es kelapa muda atau minuman lainnya. Kehidupan malamnya relatif bersih dari kehidupan remang-remang atau yang agak menyerempet maksiat.
Karena kota yang kecil maka angkutan umum yang akan kita dapati adalah ojek, dengan tarif jauh dekat Rp. 5.000,-. Tidak ada angkutan kota atau becak. Dan kebanyakan kendaraan pribadi yang melintas adalah sepeda motor, mobil plat merah, mobil besar double gardan dan sebagian kecil mobil pribadi lainnya. Persis di depan kantor bupati ada tumpukan helm setengah kepala yang ditancapkan pada sebatang tembok berbentuk kayu atau bambu membentuk sebuah prasasti. Dalam 'prasasti' tersebut terdapat tulisan peringatan 'gunakan helm standard', makanya pengendara sepeda motor di kota ini menggunakan helm standard yang menutupi seluruh kepala. Pada saatnya nanti Bangko akan menjadi kota yang lebih maju dengan proses asimilasi plus datangnya investor-investor yang menancapkan kaki usahanya di kota ini, dan akan menjadi tempat persinggahan yang nyaman dengan semua fasilitas yang memadai, semoga. Saat ini kota Bangko belum menjadi tempat yang represetatif untuk sebuah keluarga bagi para pegawai pemerintahan atau pegawai swasta lainnya yang kebetulan ditugaskan di kota ini, berdasarkan pengalaman beberapa teman. Fasilitas-fasilitas yang kurang memadai merupakan salah satu alasannya.
Tampilkan postingan dengan label Persinggahanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persinggahanku. Tampilkan semua postingan
Kamis, 25 Juni 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
